Meski Penjualan Meningkat, Perusahaan Skuter Listrik Masih Merugi: Penyebabnya


Categories :

Penjualan skuter listrik melonjak tajam dalam beberapa waktu terakhir, namun kondisi itu tidak langsung diterjemahkan menjadi keuntungan bagi produsen. Meskipun permintaan meningkat — tercatat lebih dari 1,4 juta unit skuter listrik terjual tahun ini sampai saat ini — banyak perusahaan masih mencatat kerugian.

skuter listrik - ilustrasi berita Meski Penjualan Meningkat, Perusahaan Skuter Listrik Masih Merugi: Penyebabnya

Perbedaan antara angka penjualan dan profitabilitas ini ditunjukkan oleh data pasar serta pengakuan beberapa pemain besar. Perusahaan seperti OLA, Ather, Bajaj, dan Hero mampu menjual dalam jumlah besar, tetapi segmen ini masih menghadapi tantangan struktural yang menahan arus keuntungan.

Biaya baterai menekan margin skuter listrik

Salah satu faktor terpenting yang membuat perusahaan skuter listrik kesulitan meraih laba adalah struktur biaya produksi. Dalam total biaya pembuatan sebuah skuter listrik, hampir 50 persen bisa ditengarai untuk sel baterai saja. Kondisi ini menjadi beban berat karena sel baterai tersebut sebagian besar tidak diproduksi di dalam negeri, melainkan diimpor dari luar negeri.

Selain baterai, komponen inti lain seperti motor dan perangkat power electronics juga bergantung pada pemasok asing. Akibatnya, fluktuasi nilai tukar mata uang lokal terhadap dolar dan beban bea masuk meningkatkan biaya produksi secara signifikan. Tekanan biaya ini membuat margin perusahaan tergerus meski volume penjualan besar.

Beban infrastruktur dan biaya pengembangan

Selain biaya komponen, investasi awal untuk membangun ekosistem EV juga sangat besar. Produsen baru harus mengeluarkan anggaran besar untuk penelitian dan pengembangan (R&D) dan pengembangan perangkat lunak, yang sulit direcover ketika skala produksi masih relatif kecil. Biaya untuk membangun jaringan showroom, stasiun pengisian daya, dan jaringan layanan purna jual juga menyusun porsi pengeluaran yang tak sedikit.

Karena produksi massal EV belum mencapai skala yang memadai, perusahaan belum dapat menyebarkan biaya tetap itu ke sejumlah unit yang cukup banyak. Akibatnya, biaya per unit tetap tinggi dan menghambat peralihan perusahaan dari kondisi merugi ke kondisi menguntungkan.

Tekanan ekonomi eksternal memperburuk keadaan

Pelemahan mata uang lokal terhadap dolar membuat biaya impor komponen menjadi lebih mahal. Ditambah lagi, kebijakan bea masuk dan tarif impor menambah beban anggaran produksi. Kombinasi ketergantungan pada impor dan kondisi ekonomi makro ini mengurangi fleksibilitas harga dan margin keuntungan di tengah persaingan pasar yang ketat.

Walau sejumlah merek berupaya menekan harga untuk menarik konsumen, mereka berhadapan dengan pilihan sulit antara menjaga margin dan mempertahankan volume penjualan.

Perkembangan yang menjanjikan dan strategi jangka panjang

Di tengah tantangan tersebut, ada indikasi kondisi mulai membaik secara perlahan. Sebagai contoh, produsen yang memasarkan model tradisional bertransisi ke portofolio skuter listrik melaporkan perbaikan unit economics pada lini produk tertentu. Pernyataan semacam ini menunjukkan bahwa skenario profitabilitas bukan mustahil dalam jangka menengah hingga panjang.

Para pengamat industri menilai bahwa jalan keluar utama adalah meningkatkan produksi lokal, khususnya untuk sel baterai dan komponen elektronik canggih. Jika manufaktur baterai dan komponen strategis dapat dikembangkan di dalam negeri, biaya impor akan berkurang, sehingga margin dapat membaik. Inisiatif pemerintah yang mendorong produksi lokal, termasuk skema insentif produksi, dapat mempercepat proses ini, begitu pula upaya perusahaan untuk mengembangkan teknologi sendiri.

Sekalipun saat ini banyak perusahaan skuter listrik masih mencatat rugi, transisi menuju produksi lokal, pengembangan teknologi, dan skala ekonomi yang lebih besar berpotensi mengubah kerugian menjadi keuntungan di masa datang. Namun realisasi perubahan tersebut bergantung pada investasi yang konsisten dan kebijakan yang mendukung pengurangan ketergantungan impor.

Hingga saat itu, produsen akan terus berupaya menyeimbangkan antara menarik konsumen dengan harga kompetitif dan menutupi biaya tinggi yang berasal dari baterai impor, komponen asing, serta investasi besar untuk infrastruktur dan R&D.